The younger generation in Indonesia is navigating the challenges of modernity, including urbanization, technological advancements, and globalized cultural influences. Ngapel can be a way for young people to cope with the stresses of modern life, offering a sense of comfort and familiarity. However, it also poses challenges in terms of personal development, career independence, and adapting to changing social norms. The phenomenon can be a site of intergenerational conflict, where traditional expectations clash with modern aspirations for independence and self-reliance.
Di Indonesia, dengan budaya yang masih menjunjung tinggi nilai ketimuran, rumah memiliki tiga fungsi utama dalam proses pacaran:
Menariknya, fenomena "lagi ngapel" kini justru naik daun lagi pasca pandemi COVID-19. Setelah dua tahun terkungkung di rumah masing-masing dengan interaksi online, anak muda menemukan bahwa kualitas interaksi fisik ternyata sangat melelahkan jika harus dilakukan di ruang publik.
Saya mewawancarai seorang Gen Z bernama Dinda (22) dan pacarnya, Reza (24). Mereka sudah berpacaran 1 tahun dan 90% “kencan” mereka adalah ngapel di rumah Reza.
"Kami capek sama dunia luar. Di kafe, kita harus tampil rapi, beli minum mahal, dan suaranya bising. Di rumah, aku pakai daster, Reza pake kaob, kita masak bareng, trus tidur siang. Itu lebih intim dan beneran 'kenal' satu sama lain."
Secara harfiah, "ngapel" berasal dari bahasa Jawa ( kapil atau ngapeli) yang berarti mengunjungi. Dalam konteks percintaan remaja hingga dewasa muda Indonesia, ngapel adalah kegiatan berkunjung ke rumah pasangan, biasanya di ruang tamu, sambil mengobrol, menonton TV, atau sekadar bercengkrama.
Karena terlalu nyaman di rumah (dengan sofa, TV, dan kulkas), banyak pasangan terjebak dalam zona situationship (hubungan tanpa kejelasan). Mereka hang out selayaknya pacar, tapi tidak pernah serius membahas masa depan atau keluar untuk memperkenalkan satu sama lain ke publik. "Ngapel di rumah" menjadi alasan untuk menghindari komitmen.
Banyak orang tua merasa bangga ketika anaknya "rajin ngapel di rumah". Namun, di balik itu sering terjadi toxic parenting berupa pengawasan yang melampaui batas. Studi sosiologi keluarga di perkotaan Indonesia menunjukkan bahwa orang tua yang terlalu protektif justru membuat anak lebih "kreatif" mencari celah. Ironisnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat aman berubah menjadi "ruang sidang dadakan" di mana setiap obrolan pacar didengarkan dari balik pintu.
Dilema: Apakah "ngapel dirumah" murni untuk menjaga moral, atau sekadar bentuk kontrol sosial orang tua yang paranoid?




