Suku Dayak memiliki hukum adat yang sangat keras, termasuk konsep balas dendam yang sebanding. Sementara suku Madura memiliki tradisi "carok" (duel kehormatan yang mematikan) dan "ta' pepak" (rasa malu yang ekstrem). Ketika seorang Madura melakukan pelanggaran—misalnya menebang pohon di hutan keramat atau melecehkan seorang gadis Dayak—penyelesaiannya sering kali mematikan karena kedua belah pihak menolak untuk "kehilangan muka".
Jika Sambas adalah pendahuluan, maka puncak Perang Dayak dan Madura terjadi di Kalimantan Tengah pada awal tahun 2001. Peristiwa ini dimulai dari pertikaian sepele antara seorang bos proyek asal Madura dan pekerja lokal Dayak di kota Sampit. perang dayak dan madura
Pada 18 Februari 2001, bentrokan tak terkendali. Ribuan suku Dayak, yang telah mempersiapkan senjata tradisional (mandau, sumpit beracun) dan senjata api rakitan, melakukan serangan sistematis ke permukiman Madura. Mereka membakar rumah-rumah dan menutup jalur evakuasi. Suku Dayak memiliki hukum adat yang sangat keras,
Pemerintah akhirnya bergerak. Yang paling monumental adalah Perjanjian Damai Tumbang Anoi (2001) di Kalimantan Tengah. Dalam upacara adat besar, seluruh tetua adat Dayak dan Madura berjabat tangan di atas sesajen, diikuti pemakaman massal simbolis kepala korban. Jika Sambas adalah pendahuluan, maka puncak Perang Dayak
Uniknya, rekonsiliasi juga dilakukan melalui seni. Tarian adat "Pambelum" yang ditarikan bersama oleh pemuda Dayak dan Madura, menjadi simbol "menyapu bersih" dendam. Hingga saat ini, setiap bulan Februari di Sampit, diadakan ritual Mambuang Sampit (Membuang Sial) yang dihadiri kedua kelompok.
| Factor | Explanation | |--------|-------------| | Weak state presence | After Suharto’s fall (1998), police and military authority diminished locally. | | Unresolved land grievances | Dayaks perceived transmigration as internal colonization. | | Cultural clash over honor | Madurese refusal to pay adat compensation triggered traditional Dayak warfare logic. | | Availability of traditional weapons | Mandau and blowpipes are part of Dayak daily life, enabling rapid mobilization. | | Revived headhunting symbolism | Used to terrorize Madurese and assert Dayak dominance. |