Skandal Jilbab

Skandal jilbab tidak hanya memengaruhi reputasi, tetapi juga kesehatan mental. Sebuah studi tahun 2023 dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta menunjukkan bahwa:

Skandal jilbab sering kali berakhir dengan victim blaming. Contohnya, ketika seorang wanita berjilbab diperkosa, komentar publik justru: "Jilbabnya ketat sih." atau "Dia sendiri yang goda." Ini adalah skandal moral yang lebih besar dari sekadar pakaian. skandal jilbab


Jilbab bukan lagi sekadar kain. Di masyarakat modern, jilbab telah menjadi signifier (penanda) yang kuat: bagi konservatif, ia adalah batas antara moralitas dan kekafiran; bagi liberal, ia adalah alat patriarki; bagi kapitalis, ia adalah komoditas. Ketika tiga pandangan ini bertabrakan, skandal tidak terhindarkan. Skandal jilbab tidak hanya memengaruhi reputasi, tetapi juga

Di Indonesia, skandal jilbab terbesar terjadi di industri fashion. Pada tahun 2016, Jenahara, seorang desainer hijab terkenal dan istri dari vokalis band terkenal, ditangkap oleh BNN terkait kasus narkoba. Yang membuat skandal ini lebih panas adalah: Jenahara adalah ikon "hijabers generation" — perempuan urban yang memadukan kesalehan simbolik (jilbab rancangan desainer) dengan gaya hidup glamor. Skandal jilbab sering kali berakhir dengan victim blaming

Publik ramai mempertanyakan autentisitasnya. Apakah jilbabnya hanya topeng sosial? Skandal ini menghantam industri hijab Indonesia. Beberapa merek besar yang disponsori Jenahara bangkrut dalam hitungan bulan. Ini menjadi pelajaran pahit bahwa bisnis jilbab tidak kebal dari skandal moral.